PSYCHOLOGY

Apa hubungan antara rasa bosan, stress dan energi level ?

        Rasa bosan sering kali dihubungkan dengan ketidak berdayaan terhadap aktivitas atau keadaan yang sangat rutin dan monoton. Rasa bosan adalah perasaan tidak nyaman, perasaan tidak enak bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan kita. Rasa bosan juga dapat terjadi karena kita selalu terlibat dalam kesibukan sehingga tidak lagi merasa nyaman denganadanya jeda waktu tanpa melalukan aktivitas apapun.
          Para peneliti mendifinisikan ‘kebosanan’ sebagai suatu ketidakmampuan untuk fokus dan ketidakmampuan untuk memenuhi keinginan terlibat dalam aktivitas yang dapat memuaskan diri. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tipe kepribadian dengan rasa bosan. Orang dengan kepribadian terbuka (ekstrovert) lebih mudah bosan dan lebih banyak membutuhkan tantangan untuk mempertahankan tingkat gairah yang optimal (Hill & Perkins, 1985).
       Prof. Jay Shurley seorang professor psikiatri menyatakan bahwa rasa bosan dapat memulai sebuah lingkaran setan.         Rasa bosan dapat menimbulkan stress yang pada gilirannya stress dapat memicu kebosanan yang lebih besar dan menyebabkan banyak tekanan internal. Hal ini terjadi karena pikiran manusia selalu membutuhkan tantangan, pembelajaran, perubahan serta pengalaman baru.
            Rasa bosan yang berkepanjangan dapat menyebabkan kondisi energi seseorang mengalami ketidak seimbangan terutama di area sekitar dada. Temuan neurobiologi dan analisa kesadaran (self-conciousness) menunjukkan bahwa rasa bosan berkorelasi dengan aktifitas di kortex anterior insular sehingga perasaan bosan timbul disertai dengan persepsi diri yang meningkat dan menimbulkan perasaan hampa. Dalam kondisi ini seseorang akhirnya berusaha melarikan diri dari rasa bosan dengan menggunakan narkoba ataupun dengan melakukan eksplorasi diri.
             Sesungguhnya rasa bosan merupakan sebuah bentuk adaptasi dan pertanda alami yang harus menjadi perhatian. Rasa bosan merupakan suatu indikator bagi kita untuk menyadari dan melakukan perbaikan serta pengenalan diri lebih dalam. Dari Segi fisik dapat dilakukan perbaikan pola makan, pola istirahat, dan olah raga teratur. Dari segi emosional, kita dapat melakukan liburan, mencoba aktivitas/kegiatan yang baru, bergaul dengan teman-teman yang berpikiran positif, melakukan relaksasi, trauma healing serta melakukan eksplorasi diri. Selain dari segi fisik, emosional, secara spiritual rasa bosan juga dapat menjadi pemicu pencarian jati diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *