INSPIRATION

Yoga dan modernitas: Lunturnya Sebuah Tradisi

Artikel ini juga dimuat di Koran Jakarta (2/8/2018) dengan judul: "Yoga: Lunturnya Sebuah Tradisi" http://www.koran-jakarta.com/yoga--lunturnya-sebuah-tradisi/

Bila saat ini Anda belum pernah mendengar kata yoga atau mencoba yoga, Anda akan merasa minder dalam pergaulan karena yoga kini telah menjadi tren gaya hidup masyarakat terutama di kota-kota besar di Indonesia.Eksistensi yoga sebagai pilihan gaya hidup sehat berkembang sangat pesat, hal ini terjadi dari penyebaran informasi terutama melalui cerita ataupun pengalaman yang dimiliki oleh beberapa orang, terutama bila yang menyampaikannya adalah selebritas yang cukup popular dan digemari masyarakat.
Posting foto dengan pose yoga (asana) sudah kian marak beredar di sosial media untuk mewartakan gaya hidup yang sedang tren ini. Demam yoga tengah melanda di masyarakat, mereka ada di mana-mana, berkostum olahraga dengan menenteng matras yoga warna-warni kita dapat menemukan mereka mulai dari di taman hingga di kelas ekslusif dengan harga yang ekslusif pula. Tidak sedikit perusahaan yang menggunakan yoga sebagai sarana promosi dan untuk meraih brand awareness. Kini hanya tinggal sebagian kecil dari masyarakat yang masih memandang yoga sebagai agama atau sebuah aliran sesat.
Masyarakat luas, sebagian besar beranggapan bahwa yoga hanyalah sekadar olahraga dengan berbagai jenisnya, seperti: kundalini yoga, yin yoga, iyenger, astangha, flying yoga, bikram, free-style, dan masih banyak lagi jenis lainnya. Adapun gerakan yoga sangat beragam, mulai dari gerakan yang paling mudah dan sederhana hingga yang akrobatik seperti kepala di bawah, melintirkan badan, bertumpu pada kedua tangan dan masih banyak gerakan lainnya.
Sekitar dua puluh tahun lalu, yoga belum dikenal luas seperti saat ini, yoga hanya dapat ditemui beberapa tempat seperti di pusat kebudayaan India dan Yayasan Seni Kehidupan (Art of Living). Keaslian yoga kini semakin tidak dikenal dan tenggelam dalam “hiruk pikuk” komersialisasi dan keramaian masyarakat yang terbawa arus tren.
Yoga berasal dari akar bahasa sansekerta, “Yuj” yang memiliki arti penyatuan yaitu penyatuan kesadaran diri dengan kesadaran universal, keselarasan antara tubuh dan pikiran penyatuan antara diri, alam dan Sang Maha Pencipta.
Yoga juga mengacu pada ilmu batin yang terdiri dari berbagai metode agar manusia dapat mewujudkan penyatuan ini. Berdasarkan sejarahnya perkembangan yoga dapat dibagi dalam empat periode: Yoga Pre-klasik, dikembangkan oleh perabadan Lembah Indus Saraswati mulai dari tahun 2700 SM Kata Yoga pertama kali ditemukan dalam teks suci tertua Rig Veda. Veda adalah kumpulan teks yang berisi lagu, mantra, dan ritual untuk digunakan oleh Brahman, imam Veda. Yoga dikembangkan oleh Brahman dan Rishi yang mendokumentasikan praktik dan keyakinan mereka dalam Upanishad.
Yoga Klasik, Patanjali yang sering dianggap sebagai bapak yoga, beliau mendifinisikan yoga secara sistematis dalam karyanya yang berjudul Yoga Sutera. Yoga Sutera terbagi dalam empat bab yang terdiri dari: Samadhi pada mengenai konsentrasi, Sadhana pada mengenai latihan, Vibhuti Pada yang artinya kemajuan dan Kaivalya Pada yang artinya pencerahan. Kesemuanya ini lebih dikenal sebagai “eight limbed path” yang hingga kini sebagian dari latihan tersebut masih terasa pengaruhnya pada sebagian yoga modern.
Yoga Pasca klasik, beberapa abad setelah Patanjali, guru yoga menciptakan sistem praktik yang dirancang untuk meremajakan tubuh dan memperpanjang usia. Penjelajahan hubungan fisik-spiritual ini dan praktik-praktik berpusat pada tubuh (Hatha Yoga).
Periode Modern, pada 1920- an dan 30-an, Hatha Yoga sangat dipromosikan di India dengan karya T. Krishnamacharya, Swami Sivananda, dan yogi lainnya yang mempraktikkan Hatha Yoga. Sivananda adalah seorang penulis yang produktif, menulis lebih dari 200 buku tentang yoga, dan mendirikan sembilan ashram dan berbagai pusat yoga yang terletak di seluruh dunia. Tiga murid Krishnacharya yang meningkatkan popularitas Hatha Yoga di dunia Barat adalah: B.K.S. Iyengar, T.K.V. Desikachar dan Pattabhi Jois.
Dalam yoga kita mengenal: Hatha yoga yang berfokus pada tubuh, Karma yoga: berfokus pada tindakan. Bhakti yoga: jalan pengabdian dan cinta kepada Tuhan dan sesama. Raja yoga jalan disiplin diri dengan meditasi, dan Jnana yoga jalan yang memanfaatkan jalur filosofi/ pemikiran. Kesemuanya itu bukanlah jalur yang terpisah- pisah namun merupakan suatu kesatuan latihan yang menyeluruh.
Sri Sri Ravi Shankar, seorang spiritual master pendiri Art of living menyatakan: “Bagai sekuntum bunga, kehidupan manusia memiliki potensi untuk mekar sepenuhnya. Mekarnya potensi manusia menuju kepenuhan adalah yoga.” Beliau dalam bukunya yang berjudul “Yoga Sutras of Pantajali: Commentary by Sri Sri Ravi Shankar,” menyatakan bahwa “The whole purpose of Yoga is to be with the self, to bring an integrity in you, to make you a whole. Yoga is making you whole.” Ini jelas menggambarkan bahwa yoga bukanlah keindahan postur belaka melainkan suatu disiplin yang lengkap dan mumpuni.
Sepanjang sejarah yoga, seorang Guru yoga yang otentik sering dianggap sebagai panutan spiritual yang penting, contoh hidup dari ajaran yang dia ajarkan. Yoga dalam bentuk otentik adalah ajaran yang ditransmisikan dari guru kepada murid, di dasarkan atas praktek dan pengalaman langsung.
Dalam yoga, guru spiritual sejati adalah seorang yang pikirannya merupakan perwujudan filsafat spiritual; orang yang menjalankan ceramahnya, yang hidup dengan apa yang dia khotbahkan, yang mengajari muridnya apa yang telah dia pelajari dalam hidup. Guru menunjukkan siapa Anda, apa kemungkinan tertinggi Anda. Dia membantu Anda menyelam ke dalam Diri Anda dan mencapai tujuan Anda – Dia bukan hanya menunjukkan beberapa teknik atau beberapa cara untuk melakukannya.
Ratusan sekolah yoga menjamur di dunia yang melatih ribuan orang untuk menjadi guru yoga, tetapi berapa banyak sekolah yang benar-benar berbicara tentang esensi sejati yoga?  Yoga kini telah menjadi identik dengan melakukan beberapa asana (postur fisik), beberapa teknik pernapasan atau meditasi, atau praktik lain sejenisnya.
Tidak mengherankan apabila di bulan Juni lalu, sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal Psychological Science dan dipublikasikan secara online oleh Universitas Southampton, menyimpulkan hahwa meditasi dan yoga dapat meningkatkan ego. Saat ini tidak banyak tempat belajar yoga yang masih otentik, di Jakarta kita dapat menemukannya di Yayasan Seni Kehidupan yang berlokasi di daerah Sunter.
Yoga sejatinya bukanlah kegiatan yang sekedar ikut-ikutan atau kegiatan komunal penuh hura-hura melainkan sebuah jalan sunyi untuk tidak terjebak dengan postur atau teknik melainkan melampaui dan memahami esensi dan tujuan yoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *