INSPIRATION

Taichi: Kekuatan di balik Kelembutan, Sebuah Perjalanan Spiritual ke dalam Diri

 Oleh: Agnes Irawati

Dipertemukan dan diperjalankan di dalam Taichi, itulah yang ku lalui dalam sebulan ini. Melampaui batas ruang dan waktu, ku lewati tahapan demi tahapan dalam perjalanan menemukan kembali Jati Diri ku.
Ketika seorang murid siap untuk melangkahkan kakinya di dalam perjalanan spiritual, maka Tuhan pun mengirimkan para Guru untuk menuntun agar sang murid tidak tersesat di dalam memasuki dunia nyata serta tidak terilusi dengan gemerlapnya dunia maya Taichi yang terkadang diwarnai dengan kompetisi, ambisi serta proyeksi energi negatif para pemainnya.

Inilah tahapan2 yang masih dapat ku ingat dan ku ceritakan di dalam melewati perjalanan meniti ke dalam diri ini:

  1. Menjawab panggilan Ilahi. Bagiku Taichi adalah sebuah panggilan untuk memasuki kedalaman Diri, mengenal IA yang bersemayam di dalam lubuk hati terdalam. Panggilan itu sangat menantang dan tampaknya tidak mungkin ku lalui secara akal sehat, tapi entah mengapa aku tetap menjawab "YA" terhadap panggilan Ilahi itu.
  2. Melewati lembah keraguan.  Setelah berkata "Ya" maka dimulailah perjalanan ku mendaki gunung. Di dalam perjalanan itu, raga pun terkuras. Kaki dan lutut ku pun sempat mengalami cidera, padahal puncak gunung masih berada nun jauh di sana. Saat itu, keraguan pun merayap menghampiri. Kala aku memutuskan untuk berhenti, muncullah Guru yang diutus Tuhan untuk memberikan semangat dan memapah ku untuk kembali berdiri dan mendaki gunung.
  1. Berjalan seorang diri.  Tahap ini adalah yang tersulit. Aku menyadari bahwa perjalanan ini harus ku tempuh seorang diri. Meninggalkan yang banyak, menuju pada yang Satu, terus berjalan mendaki gunung dalam keadaan raga yang telah terluka.
  1. Bercermin di air yang jernih.  Setelah melewati lembah yang gersang dan tandus seorang diri, akhirnya ku temukan sebuah danau yang airnya sangat jernih. Dalam keadaan haus dan lelah, aku pun melepaskan dahaga ku dengan minum Air Kehidupan ini. Di tempat ini lah aku menatap wajah Sang Guru Sejati. Sebuah pertemuan yang tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Keanggunan, Kelembutan dan Keindahan Diri Sang Guru benar-benar membuat ku terpana saat menatap wajah Nya yang berseri-seri. Ingin aku berlama-lama menatap wajah Nya, berbincang-bincang dengan Nya, berada di dalam pelukan kehangatan Kasih Nya, namun memenuhi permintaan Nya, aku pun turun gunung sambil memegang janji Nya bahwa bukan aku yang menari kala aku menarikan Taichi.
  1. Memasuki arena pertandingan.  Berpegang pada janji Sang Guru sambil selalu membayangkan senyumNya yang berseri-seri, aku pun melangkahkan kaki memasuki arena pertandingan dengan ringan dan tanpa beban. Aku menyadari bahwa aku ini hanya diperjalankan di dalam Taichi. Semua sudah diatur oleh Sang Guru.

Sertifikat dan medali emas ini bukan milik ku tapi milik Sang Guru. Dan ku persembahkan kepada dr. Hendry Widjaja & Association Taichi Harmoni Jakarta. Tuhan memberkati.